Langsung ke konten utama

Penulis Plotter Vs. Penulis Bebas? Duel Gaya Penulis Fiksi!

 

Dunia kepenulisan terbagi menjadi dua kubu utama: penulis plotter dan penulis bebas (pantser). Masing-masing memiliki pendekatan berbeda dalam merajut cerita dengan kelebihan dan kekurangannya masing-maisng. Mari kita bedah dengan ringkas kedua jenis penulis ini.




Perbedaan Utama:

  • Plotter:
    • Metode: Merancang kerangka cerita yang detail, termasuk plot, karakter, dan poin-poin penting sebelum menulis.
    • Kekuatan: Kejelasan arah cerita, minim writer's block, memudahkan revisi.
    • Kelemahan: Kurang fleksibel, terkesan kaku, berpotensi kehilangan momen spontan.
  • Pantser:
    • Metode: Menulis tanpa kerangka cerita yang pasti, menjelajahi alur dan karakter sambil berjalan.
    • Kekuatan: Spontanitas, fleksibilitas, penemuan ide baru yang tak terduga.
    • Kelemahan: Rentan writer's block, kesulitan menjaga struktur cerita, revisi lebih rumit.

Keuntungan Masing-masing:

  • Plotter:
    • Cocok untuk penulis yang:
      • Lebih suka struktur dan keteraturan.
      • Ingin menyelesaikan cerita tepat waktu.
      • Suka merancang alur cerita yang kompleks.
    • Menghasilkan karya yang:
      • Memiliki plot yang solid dan terarah.
      • Minim lubang cerita dan inkonsistensi.
      • Memudahkan revisi dan penyempurnaan.
  • Pantser:
    • Cocok untuk penulis yang:
      • Lebih suka kebebasan dan spontanitas.
      • Menyukai proses penemuan ide saat menulis.
      • Ingin mengeksplorasi karakter dan alur cerita secara mendalam.
    • Menghasilkan karya yang:
      • Memiliki gaya penulisan yang segar dan mengalir.
      • Kaya akan momen dan dialog yang natural.
      • Menawarkan kejutan dan ketegangan yang tak terduga.

 

Lalu, siapa yang lebih unggul?

Jawabannya: TIDAK ADA!

Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Plotter cocok untuk penulis yang terstruktur dan logis, sedangkan pantser ideal untuk penulis yang spontan dan kreatif.

Yang terpenting: Temukan gaya yang paling cocok dengan kepribadian dan preferensi kamu. Bereksperimenlah, nikmati prosesnya, dan ciptakan cerita yang memukau dengan gayamu sendiri!

 

Bahan ini diringkas dari beberapa sumber:

  • https://quotidianwriter.medium.com/plotting-vs-pantsing-writing-community-lingo-765f5f337b56
  • https://selfpublishing.com/write-as-a-pantser/
  • https://blog.reedsy.com/live/how-to-start-writing-a-book/
  • Komentar

    Postingan populer dari blog ini

    Pangku: Kegagalan Negara dan Dekonstruksi Stigma Terhadap Perempuan

    PERINGATAN SPOILER:  Tulisan ini berisi opini pribadi yang bisa saja mengungkap detail penting dari film. “Ribuan kilo jalan yang kau tempuh ….” Ya, petikan gitar yang mungkin kamu sudah hapal benar nada dan temponya, dinyanyikan oleh suara yang familiar meskipun itu adalah sebuah rekaman ulang khusus untuk film yang baru saja kamu tonton selama kurang dari dua jam (dua jam jika ditotalkan dengan segala jenis iklan). Layar menunjukkan extreme close-up wajah tokoh perempuan utama, Sartika. Di sana, ia tiba-tiba berbeda dari beberapa menit sebelumnya saat terakhir kamu melihatnya; lebih kusam, garis-garis di bawah dan sisi terluar matanya mulai terlihat, tubuhnya tampak tak lagi tegap, dan rambut sepunggung yang hitam legam itu kini dihiasi beberapa helai yang tampak putih kilap. Kamu (dan penonton lainnya) terdiam untuk beberapa saat. Suara desis-desisan hidung orang-orang yang masih duduk satu ruangan denganmu membuatmu yakin bahwa air yang melapisi bagian terluar matamu merujuk ...

    Puluhan Novel, Ratusan Halaman, dan Akhirnya Saya Menemukan 8 Rahasia Menulis yang Tak Pernah Diajarkan!

      Saat pertama kali belajar menulis, saya pikir kuncinya hanya soal teknik: cara membangun plot, menulis dialog yang natural, atau menciptakan karakter yang meyakinkan. Saya membaca banyak buku panduan menulis, mengikuti kelas-kelas menulis, dan mencoba menerapkan semua teori yang diajarkan. Tapi semakin banyak novel yang saya baca—bukan sekadar membaca , tapi benar-benar mencermati bagaimana penulis hebat menyusun kisah mereka—saya mulai menyadari sesuatu. Ada hal-hal yang tidak pernah diajarkan di kelas menulis mana pun. Rahasia yang hanya bisa ditemukan dengan terus membaca dan menulis, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Setelah membaca puluhan novel dari berbagai genre dan gaya, saya merangkum 8 hal yang sering kali tersembunyi dalam karya para penulis hebat. Maka tersenyum rianglah sebab saya membagikannya di sini >.< 1. Ketidaksempurnaan yang Justru Menghidupkan Cerita Dulu, saya mengira tulisan yang bagus harus sempurna . Nyatanya, novel yang paling berkesan bagi sa...

    Hindari White Room Syndrome Dalam Ceritamu! Intip Tipsnya!

      White Room Syndrome terjadi ketika penulis menghadirkan adegan atau karakter tanpa memberikan konteks yang memadai. Istilah ini mengacu pada situasi di mana pembaca merasa seolah-olah karakter atau adegan berada dalam ruang putih kosong tanpa latar belakang atau detail yang relevan. Untuk menghindari white room syndrome, penting bagi penulis untuk memperkaya narasi dengan deskripsi, emosi, dan interaksi yang lebih mendalam antara karakter dan lingkungannya. Dengan begitu, pembaca dapat lebih terlibat dan terhubung dengan cerita yang dibangun oleh penulis. Berikut beberapa langkah yang dapat membantumu menghindari white room syndrome dalam kepenulisan: Deskripsikan Lingkungan: Pastikan kamu memberikan deskripsi yang memadai tentang tempat di mana adegan berlangsung. Gambarkan suasana, cahaya, bau, dan suara. Misalnya, George R.R. Martin dalam seri A Song of Ice and Fire sering memberikan detail tentang makanan atau benda yang ada di sekitar karakter saat mereka berbicara. Ini t...