White Room Syndrome terjadi ketika penulis menghadirkan adegan atau karakter tanpa memberikan konteks yang memadai. Istilah ini mengacu pada situasi di mana pembaca merasa seolah-olah karakter atau adegan berada dalam ruang putih kosong tanpa latar belakang atau detail yang relevan. Untuk menghindari white room syndrome, penting bagi penulis untuk memperkaya narasi dengan deskripsi, emosi, dan interaksi yang lebih mendalam antara karakter dan lingkungannya. Dengan begitu, pembaca dapat lebih terlibat dan terhubung dengan cerita yang dibangun oleh penulis. Berikut beberapa langkah yang dapat membantumu menghindari white room syndrome dalam kepenulisan:
- Deskripsikan Lingkungan: Pastikan kamu memberikan deskripsi yang memadai tentang tempat di mana adegan berlangsung. Gambarkan suasana, cahaya, bau, dan suara. Misalnya, George R.R. Martin dalam seri A Song of Ice and Fire sering memberikan detail tentang makanan atau benda yang ada di sekitar karakter saat mereka berbicara. Ini tidak hanya menambahkan nuansa pada adegan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana karakter mempengaruhi lingkungan sekitarnya
- Gunakan Konteks: Berikan konteks tentang situasi dan waktu. Pembaca perlu tahu di mana dan kapan adegan terjadi. Misalnya, dalam buku Babel, penulis R.F. Kuang menggambarkan perbedaan suasana ketika karakter berbicara dengan wali asuhnya di rumah atau dengan teman-temannya di Oxford. Konteks tempat sangat penting.
- Gunakan Objek Fisik: Berikan karakter sesuatu untuk berinteraksi. Misalnya, karakter dapat memegang benda, bermain-main dengan sesuatu, atau duduk di kursi tertentu. Ini membantu memperkaya adegan dan menghindari kesan “ruang putih” tanpa detail. Seperti detail yang ada pada novel Restart, tokoh utama atau tokoh lainnya entah sedang memegang pensil, duduk sambil memutar kursi, dll.
- Pikirkan Perspektif Karakter: Bagaimana karakter melihat lingkungan sekitarnya? Apakah mereka merasa nyaman atau cemas? Deskripsikan lingkungan dari sudut pandang karakter.
- Perhatikan Detail Kecil: Jangan lupakan detail kecil yang dapat menambah kehidupan pada adegan. Misalnya, suara langkah kaki di jalan berbatu atau aroma kopi di kafe.
Setelah menulis, periksa apakah ada bagian yang
kurang deskripsi. Jika ada, tambahkan detail yang relevan. Ingatlah bahwa white
room syndrome bukan masalah besar, tetapi dengan memperhatikan
langkah-langkah di atas, kamu dapat menghadirkan adegan yang lebih hidup dan
memikat bagi pembaca. Semoga berhasil!

Komentar
Posting Komentar