Langsung ke konten utama

Pangku: Kegagalan Negara dan Dekonstruksi Stigma Terhadap Perempuan


PERINGATAN SPOILER: Tulisan ini berisi opini pribadi yang bisa saja mengungkap detail penting dari film.


“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh ….”

Ya, petikan gitar yang mungkin kamu sudah hapal benar nada dan temponya, dinyanyikan oleh suara yang familiar meskipun itu adalah sebuah rekaman ulang khusus untuk film yang baru saja kamu tonton selama kurang dari dua jam (dua jam jika ditotalkan dengan segala jenis iklan).

Layar menunjukkan extreme close-up wajah tokoh perempuan utama, Sartika. Di sana, ia tiba-tiba berbeda dari beberapa menit sebelumnya saat terakhir kamu melihatnya; lebih kusam, garis-garis di bawah dan sisi terluar matanya mulai terlihat, tubuhnya tampak tak lagi tegap, dan rambut sepunggung yang hitam legam itu kini dihiasi beberapa helai yang tampak putih kilap. Kamu (dan penonton lainnya) terdiam untuk beberapa saat. Suara desis-desisan hidung orang-orang yang masih duduk satu ruangan denganmu membuatmu yakin bahwa air yang melapisi bagian terluar matamu merujuk pada satu kesimpulan yang sama: film ini layak sedu-sedan.

Credit title putih perlahan naik di atas layar hitam saat kamu mendengar “Ibuku sayang, masih terus berjalan...” yang terasa seperti pukulan telak di dada. Kamu tidak disuguhi akhir bahagia, tapi disuguhi sebuah realita. Sebuah penghormatan pada sosok ibu, terlebih dalam kasus ini adalah seorang ibu tunggal. Seorang perempuan.

Tapi tunggu. Kamu mulai koreksi untuk apa air matamu. Apa penonton lain mendesas-desiskan kesedihan yang sama denganmu? Atau mereka hanya masuk ke dalam sentimental yang digarap oleh tangan Reza Rahardian, seorang aktor prodigy dan memantik aforisme “Reza lagi, Reza lagi” yang kini duduk di kursi sutradara? Mungkin. Tapi kamu yakin kamu tidak. Air matamu adalah hasil dari panas yang merayap-rayap di dadamu dan dentuman-dentuman suara di benakmu setelah menyaksikan Pangku.

Menembus Pesan yang Terselubung oleh Sinematik Apik

Pangku membawa penonton kembali ke tahun 1998 dengan sebagian besar berlatar tempat di wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura). Kisah berpusat pada Sartika (Claresta Taufan), seorang wanita muda yang tengah hamil tua. Dipicu oleh kondisi ekonomi dan harapan untuk mengamankan masa depan lebih baik bagi dirinya dan anaknya, Sartika meninggalkan kota kelahirannya. Film dimulai dengan Sartika menumpang truk dan diturunkan supir di daerah pesisir Pantura.

Dalam perjalanan dan perjuangannya mencari penghidupan, Sartika bertemu Maya (Christine Hakim), ibu tua pemilik warung kopi pangku di Pantura.  Kopi pangku sendiri didefinisikan sebagai layanan di mana seorang perempuan muda menyajikan kopi dan duduk bahkan dipangku untuk mendampingi pelanggan yang mayoritas adalah supir truk (logistik). Warung kopi pangku di film ini dipaparkan sebagai fungsi sosial dan relasi interpersonal; aspek pendampingan atau teman nongkrong yang dinilai lebih penting daripada kualitas kopi yang disajikan. Setelah melahirkan anaknya, Bayu (Shakeel Fauzi), kebutuhan Sartika semakin besar. Karena putus asa dan tak ada pilihan, Sartika terpaksa bekerja sebagai pelayan di warung kopi milik Bu Maya. Suatu hari, seorang supir truk bernama Hadi (Fedi Nuril) berhenti di warung itu, dan mulai memperhatikan Sartika dan Bayu sejak semula. Mampir ke warung Bu Maya sudah menjadi rutinitas bagi Hadi dan perlahan Sartika mulai membuka hati.

Tapi ingat, Pangku bukan film bergenre romansa. Pangku menjadi film drama yang menggugat. Di tangan Reza Rahardian, kata “pangku” tidak hanya sebatas judul, tetapi sebagai kata kerja yang secara bersamaan ditunjukkan sepanjang film mengandung makna cinta tanpa syarat (antara Sartika dan Bayu), komodifikasi (pelayanan pangku pada warung kopi), dan solidaritas senyap dalam menghadapi kekerasan struktural (antara Bu Maya dan Sartika). Tetapi tulisan ini berfokus kepada “pangku” sebagai komodifikasi melalui lensa realisme yang dihadapi perempuan.

Sutradara tampaknya menolak sentimen berlebihan. Jika kebanyakan film melodrama acap mensimplikasi penderitaan karakter menjadi tragedi pribadi yang dapat diselesaikan secara individual, sebaliknya, pendekatan realisme yang dipilih Pangku memaksa penonton melihat kesulitan yang dialami Sartika bukan sebagai kehancuran moral atau takdir tragis, melainkan sebagai konsekuensi dari kekerasan struktural kepada perempuan yang bermanifestasi langsung terhadap kemiskinan, disfungsi keluarga (terkhusus karena absennya peran ayah yang produktif), dan isu kompleks mengenai otoritas atas tubuh. Dengan menempatkan Sartika sebagai ibu tunggal, film menaikkan taruhan pengorbanan di mana anak menjadi motif tertinggi. Di pusat narasi sendiri Sartika merupakan representasi agensi perempuan dengan segala keterbatasan. Keputusannya untuk (pada akhirnya) bekerja sebagai pelayan di warung kopi pangku adalah sebuah pertaruhan yang didesak oleh kebutuhan mendasar demi kelangsungan hidup anak setelah upah bekerja sebagai buruh tani tak cukup mengisi perut (dalam film ditunjukkan dengan ketidakmampuan membeli beras). Tindakannya tampil dalam heroisme sunyi dengan visual menggugah dan nihil dialog antara Sartika dan Bu Maya saat Sartika mengambil pekerjaan itu. Dengan dirinya sendiri, Sartika telah melalui tawar-menawar sulit antara tubuh, emosi, dan faktor ekonomi. Hanya anggukan pelan dan frame-pun bergulir: Bu Maya memilihkan Sartika pakaian yang menarik tamu mampir ke warung, rambutnya di tata, pada kedua pipinya disapukan dengan lembut perona merah muda. Itu semua ditampilkan dengan tatapan penuh beban dan rasa kurang nyaman oleh Sartika. Adegan terus berlanjut hingga ia membuat kopi dan duduk di samping laki-laki dengan gugup untuk pertama kali.

Mari kita urutkan perkaranya. Diawal, Sartika dikatakan sebagai pembawa sial oleh supir truk yang ia tumpangi karena jenis kelamin dan gendernya. Juga rekan supir itu tampaknya sinis terhadap kehamilan Sartika. Ia menumpang di rumah Bu Maya dan Pak Jaya (suami Bu Maya) sambil membantunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sartika banting tulang sebagai buruh tani dengan upah yang tak sepadan. Pantura dikenal sebagai koridor logistik dan jalur ekonomi vital di Jawa (terkhusus di tahun cerita), di mana aktivitas formal (transportasi truk) menjadi mesin penggerak ekonomi makro nasional, namun secara struktural terputus dari perlindungan dan kesejahteraan yang semestinya disediakan oleh negara, terlihat dari kemiskinan yang menyelimuti masyarakat pesisir dan sangat terbatasnya pilihan pekerjaan formal. Film ini mendemonstrasikan bagaimana negara gagal menyediakan akses dan kesempatan, lalu secara pasif menimbulkan penderitaan dan membatasi potensi hidup seseorang, sehingga agensi Sartika beroperasi murni sebagai kelompok yang bertahan hidup di tengah-tengah ketiadaaan dukungan sistemik.

Seturut hadirnya tokoh laki-laki bernama Hadi, supir truk penyalur ikan, film ini menyingkap lapisan eksploitasi yang lebih dalam. Melalui hubungan Sartika dan Hadi, terungkap bahwa Sartika bukan satu-satunya perempuan dalam kehidupan Hadi, dan ia hanyalah objek ekspresi seksual dan kesepian seorang suami yang ditinggal istri bekerja ke luar negeri. Hadi pada mulanya digambarkan sebagai tokoh yang tulus dan baik hati, seseorang yang ingin memiliki anak dan hidup dengan keluarga impian.

Aku mau punya anak. Kamu mau punya suami?

Begitulah lamaran Hadi kepada Sartika yang menekankan akan hadirnya sosok ayah untuk Bayu sekaligus suami untuknya. Tetapi film Pangku enggan mengikuti formula klise sinema yang menghadirkan laki-laki sebagai penyelamat. Sutradara secara sadar menolak trope ini. Malah lebih jauh lagi, karakter Hadi dan Pak Jaya berhasil melambangkan tidak berhasilnya laki-laki dalam memenuhi peran tradisional sebagai penyedia dalam ekonomi unit keluarga. Bu Maya, di usia melewati setengah abad, harus membuka warung hingga larut karena suaminya menganggur. Sehari-hari Pak Jaya hanya mengumpulkan sampah plastik bekas pembungkus ikan untuk kemudian dijual. Meskipun dalam keadaan sulit secara finansial, Pak Jaya yang sama sekali tak memiliki dialog dalam film ini tampak hidup enteng (slow living), seolah percaya bahwa ia akan terus bisa makan selama Bu Maya masih ada. Terbukti sehari-hari ia hanya seperti menunggu Bu Maya memanggilnya pada jam makan. Lalu Hadi yang merelakan (baca: membiarkan) Anisa (Happy Salma), istrinya, meninggalkan rumah dan negaranya untuk membantu pundi-pundi. Meskipun peran perempuan telah berubah menjadi penopang ekonomi utama (seperti Sartika, Bu Maya dan Anisa), beban sosial dan moral yang menimpa mereka tetaplah sama. Akibatnya, perempuan menghadapi penindasan ganda: mereka dipaksa sebagai breadwinner, sekaligus dinilai dan dihakimi berdasarkan standar moral konservatif.

Satu babak berhasil menghantam keras: Hadi tak melakukan apa-apa saat Sartika diintervensi dan diusir oleh Anisa yang sudah kembali dari luar negeri. Tatapan Hadi hampa kepada Sartika dan Bayu saat mereka pergi menjauhi rumah sederhana (masih di pesisir Pantura) yang disediakan Hadi setelah mereka menikah. Sartika dengan susah payah mendorong gerobak bakal berjualan mi ayam yang dibuat Hadi (dan belum rampung) karena Sartika ingin berjualan mi ayam sejak lama, dan kelak diketahui dalam kondisi hamil muda. Bayu sesekali melihat ke belakang di mana Hadi berdiri diam seolah ia adalah orang paling terpuruk dalam drama ini. Tapi reaksi Sartika justru sebaliknya. Ia bertindak secara otonom dan penuh ketegasan: meninggalkan Hadi dan kembali berjuang untuk menghidupi anaknya. Adegan ini merupakan teguran terhadap struktur patriarki; menyoroti celah institusi perkawinan (kasus di film ini juga merujuk pada poligini) dan kegagalan individu laki-laki (Hadi) untuk melindungi istri dan anak.

Perlu diapresiasi juga usaha sutradara secara ketat menghindari penggambaran yang dapat mengkomodifikasi tubuh perempuan (male gaze). Reza Rahardian tidak menggunakan teknik close-up dramatis, adegan histeris, atau visualisasi yang mengeksploitasi tubuh perempuan. Sebagai contoh, adegan sensitif seperti melahirkan tidak digambarkan secara langsung; penonton hanya melihat Pak Jaya, duduk di luar mendengarkan sayup-sayup suara Sartika mengejan dan tangisan bayi. Pendekatan ini adalah penghormatan terhadap proses alami yang erat kaitannya dengan tubuh perempuan. Demikian pula pada adegan saat Sartika pertama kali mendengar Hadi sudah beristri yang tidak dipenuhi histeria buatan atau adegan-adegan berlebihan, melainkan melalui long shot dari jarak yang sangat jauh, di mana emosinya ditransmisikan melalui aksi kepasrahan di pangkuan Bu Maya. Satu-satunya adegan intim yang ditampilkan adalah adegan Sartika bersama Hadi, dan itu tidak terkait dengan transaksi ekonomi di mana tidak memperlihatkan tubuh perempuan yang di-zoom atau menggunakan teknik slow motion demi tujuan objektifikasi. Jarak visual ini sepertinya memprioritaskan sifat keibuan Sartika untuk tetap duduk di atas kekejaman eksploitasi tubuh. Melalui lensa ini, tindakan Sartika selalu dilihat sebagai maternal sacrifice narrative.

Secara keseluruhan, Pangku tampil sebagai kritik sosio-ekonomi tajam. Tradisi pangku di sini tidak hanya menguak praktik asusila, melainkan menandai simtom dari ketimpangan gender dan kemiskinan struktural. Relasi timpang itu mereduksi perempuan menjadi sarana validasi maskulinitas. Warung pangku menjadi ruang rekreasi ego laki-laki dengan memanfaatkan tubuh perempuan yang rentan secara ekonomi. Melalui pendekatan humanis, film ini berhasil mendekonstruksi stigma terhadap perempuan, memperlihatkan bagaimana tubuh perempuan terpaksa dikomodifikasi dalam ruang liminal karena kebutuhan finansial. Jelas terlihat bagaimana krisis ekonomi menimpa perempuan lebih berat. Jatuhnya agensi Sartika ke dalam komodifikasi tubuh mencerminkan absennya negara dalam memenuhi hak dasar warga negaranya. Praktik pangku bukanlah pilihan bebas, tetapi bentuk subsitusi tragis di mana seseorang harus menanggalkan rasa aman dan nyaman untuk menutup celah kesejahteraan yang diabaikan negara.

Pertanyaan-Pertanyaan Saat Meninggalkan Bioskop

Bagi sutradara, film ini mempunyai arti lain, yaitu satu bentuk surat cinta kepada ibunda yang berjuang membesarkannya seorang diri tanpa sosok laki-laki. Hal ini diperkuat dengan adegan terakhir: Sartika yang tampak sedikit menua membaca surat yang ditinggalkan Bayu untuknya. Bayu sudah masuk usia remaja. Ia mengantar adik perempuannya (anak Sartika dan Hadi) sekolah sambil berangkat dan berjualan mi ayam. Tapi bagimu film Pangku meninggalkanmu dengan pekerjaan rumah. Kepalamu sibuk mendengungkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat dadamu gembung oleh gejolak: Sampai titik mana “bertahan hidup” menjadi pembenaran bagi pembiaran eksploitasi? Jika keberadaan warung kopi pangku secara fungsional mendukung ekosistem istirahat para pengemudi truk yang menggerakkan perkonomian nasional, bukankah industri logistik besar memiliki utang sosial? Benarkah tampaknya negara mendukung dan melanggengkan kekerasan terhadap perempuan dengan melakukan razia terhadap warung-warung sejenis tapi di saat yang sama juga tak berbenah terhadap sistem ekonomi? Apakah glorifikasi terhadap “matternal sacrifice” justru berbahaya karena melanggengkan beban ganda pada perempuan? Jangan-jangan sebagian besar penonton terjerumus ke dalam sentimental dan terbawa perasaan sampai-sampai mengaburkan konteks kekerasan struktural sehingga masyarakat lebih cepat menghakimi moralitas perempuan yang bekerja di sektor “abu-abu” (seperti kopi pangku) daripada marah pada kegagalan negara dalam menjalankan kewajibannya?

Dengan langkah berat dan diiringi suara Iwan Fals yang terdengar lebih lirih dan sedih kamu melangkah keluar bioskop dengan kesimpulan bahwa moralitas adalah kemewahan bagi mereka yang perutnya kenyang. Saat melewati pintu bioskop yang hitam legam, kamu bergidik ngeri menyadari bahwa sosial-budaya, bahkan negara seolah merestui bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan itu sendiri sebab sering kali sanksi sosial diberikan berdasarkan kepentingan laki-laki dan sangat berdasarkan kepentingan perlindungan dan hak perempuan.

Catatan:

Sebelum opini ini ditulis (bahkan sebelum film Pangku tayang di bioskop Indonesia) film ini berhasil memenangkan empat penghargaan sekaligus di Busan International Film Festival (BIFF) 2025, yaitu: KB Vision Audience Award (KB), FIPRESCI Award (FIPRESC), Bishkek International Film Festival-Central Asia Cinema Award, dan Face of the Future Award pada September 2025.

Saat opini ini dituliskan (dan melalui proses self-editing) film Pangku sudah sukses menyabet empat Piala Citra tahun 2025 sekaligus sebagai: 

  1. Film Panjang Terbaik
  2. Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik untuk Christine Hakim
  3. Penulis Skenario Asli Terbaik untuk Reza dan Felix K. Nesi
  4. Pengarah Artistik Terbaik untuk Eros Eflin

 

Sumber:

Pengalaman dan pengamatan penulis selama menonton film Pangku.

https://www.tribunnews.com/seleb/7742874/pengalaman-reza-rahadian-di-balik-ide-cerita-film-kopi-pangku

https://narasi.tv/read/narasi-daily/film-pangku-raih-4-penghargaan-di-biff-2025/3

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20251120235418-220-1297735/reza-rahadian-berderai-air-mata-pangku-film-terbaik-piala-citra-2025

Akun Instagram Resmi film Pangku (untuk gambar poster).

Foto pribadi penulis (untuk foto tiket)

Komentar