Langsung ke konten utama

Postingan

Pangku: Kegagalan Negara dan Dekonstruksi Stigma Terhadap Perempuan

Postingan terbaru

Puluhan Novel, Ratusan Halaman, dan Akhirnya Saya Menemukan 8 Rahasia Menulis yang Tak Pernah Diajarkan!

  Saat pertama kali belajar menulis, saya pikir kuncinya hanya soal teknik: cara membangun plot, menulis dialog yang natural, atau menciptakan karakter yang meyakinkan. Saya membaca banyak buku panduan menulis, mengikuti kelas-kelas menulis, dan mencoba menerapkan semua teori yang diajarkan. Tapi semakin banyak novel yang saya baca—bukan sekadar membaca , tapi benar-benar mencermati bagaimana penulis hebat menyusun kisah mereka—saya mulai menyadari sesuatu. Ada hal-hal yang tidak pernah diajarkan di kelas menulis mana pun. Rahasia yang hanya bisa ditemukan dengan terus membaca dan menulis, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Setelah membaca puluhan novel dari berbagai genre dan gaya, saya merangkum 8 hal yang sering kali tersembunyi dalam karya para penulis hebat. Maka tersenyum rianglah sebab saya membagikannya di sini >.< 1. Ketidaksempurnaan yang Justru Menghidupkan Cerita Dulu, saya mengira tulisan yang bagus harus sempurna . Nyatanya, novel yang paling berkesan bagi sa...

Dalang Cerita: Tantangan Menulis Sudut Pandang Orang Ketiga

Menulis cerita dengan sudut pandang orang ketiga ini menurut saya susah-susah-gampang. Dua kali susahnya, sekali gampangnya 😏. Jelas, penulis sebagai dalang, tapi dalang yang bagaimana?  Apa dalang yang serba tahu, atau serba hadir, atau bisa saja hanya berada pada perspektif tertentu. Wah, menentukan ini saja sudah membuat penulis berpikir dan kemudian mengira-ngira apakah ceritanya berjalan dengan baik jika memilih satu dari sekian banyak pilihan dalang.  Pembagian Sudut Pandang Orang Ketiga 1.  Orang Ketiga Serba Tahu (Omniscient) Ini adalah dalang versi dewa. Penulis tahu segalanya, luar dan dalam—apa yang dirasakan semua tokoh, apa yang akan terjadi, bahkan hal-hal yang tidak diketahui tokoh sekalipun. Kelebihannya? Kebebasan! Tapi hati-hati, kebebasan ini bisa menjadi jerat. Jika tidak hati-hati, pembaca bisa bingung karena terlalu sering berpindah-pindah sudut pandang (head-hopping). 2. Orang Ketiga Terbatas (Limited) Sudut pandang ini lebih terkendali. Kita hanya...

Terjebak di Tengah Naskah? Begini Cara Saya Keluar dari Naskah Mandek

  Siapa di sini yang pernah merasa stuck atau mandek saat menulis? SAYA! Rasanya ingin menyerah saja, ya? Tapi, tenang! Karena saya juga pernah merasakan hal yang sama, maka saya akan membagikan ‘rahasia kecil’ yang selalu saya gunakan untuk keluar dari kebuntuan itu. Mau tahu apa saja? Yuk, intip rahasianya! 1. Kenali Penyebab Stuck dengan Jujur pada Diri Sendiri Mengenali penyebab kebuntuan adalah langkah pertama yang sangat penting. Ada kalanya saya terjebak di tengah naskah bukan karena ceritanya tidak bisa dilanjutkan, tapi karena saya kehilangan semangat atau terlalu memikirkan kesempurnaan. Saran pribadi saya: jujurlah pada diri sendiri. Ambil waktu sejenak untuk menanyakan, ‘Apa yang sebenarnya membuat saya stuck?’ Dari sana, biasanya saya bisa menemukan cara untuk kembali menulis. Suatu waktu, ternyata saya stuck hanya kerena memaksakan diri untuk menulis sempurna. Maka saya biarkan saja ketidaksempurnaan itu mengalir terlebih dahulu. Juga pernah, saya dalam ke...

Hindari White Room Syndrome Dalam Ceritamu! Intip Tipsnya!

  White Room Syndrome terjadi ketika penulis menghadirkan adegan atau karakter tanpa memberikan konteks yang memadai. Istilah ini mengacu pada situasi di mana pembaca merasa seolah-olah karakter atau adegan berada dalam ruang putih kosong tanpa latar belakang atau detail yang relevan. Untuk menghindari white room syndrome, penting bagi penulis untuk memperkaya narasi dengan deskripsi, emosi, dan interaksi yang lebih mendalam antara karakter dan lingkungannya. Dengan begitu, pembaca dapat lebih terlibat dan terhubung dengan cerita yang dibangun oleh penulis. Berikut beberapa langkah yang dapat membantumu menghindari white room syndrome dalam kepenulisan: Deskripsikan Lingkungan: Pastikan kamu memberikan deskripsi yang memadai tentang tempat di mana adegan berlangsung. Gambarkan suasana, cahaya, bau, dan suara. Misalnya, George R.R. Martin dalam seri A Song of Ice and Fire sering memberikan detail tentang makanan atau benda yang ada di sekitar karakter saat mereka berbicara. Ini t...

Tokoh Utama Sepurna? Bikin Bosan Pembaca! 3 Komponen Membangun Flawed Hero

Dalam cerita, hero (tokoh utama) yang menarik seringkali merupakan sosok yang tidak sempurna. Tokoh yang sempurna terasa membosankan karena mereka tidak menghadapi tantangan nyata atau berkembang sebagai karakter. Sebaliknya, tokoh yang tidak sempurna memberikan kedalaman dan kompleksitas yang membuat cerita lebih menarik dan relatable bagi pembaca. Berikut adalah elemen-elemen penting yang membangun karakter dan membentuk tokoh tidak sempurna: 1. Masalah (atau kekurangan yang perlu diperbaiki) Masalah atau kekurangan ini bisa berupa kelemahan personal, trauma masa lalu, kebiasaan buruk, keterbatasan fisik atau aspek lain dari karakter yang membuat mereka tidak sempurna. Contoh: Seorang CEO yang cerdas tapi sombong, sering meremehkan orang lain, menyebabkan konflik dengan timnya. Pengembangan: Cerita menunjukkan bagaimana sifat sombongnya menyebabkan kegagalan dalam misi dan mengancam keberlanjutan perusahaannya. Penyelesaian: Melalui pengalaman dan interaksi ...

Dua Cara Agar Tokoh Dalam Ceritamu Akan Terus Terkenang

  Hai teman-teman penulis dan pembaca! Aku baru aja selesai ngoprek beberapa novel dan film. Ada dua hal yang bikin tokoh utama di cerita-cerita itu jadi terus diingat. Penasaran? Yuk, kita bahas signature style dan catchphrase. 1.       Signature Style: Gaya yang Membedakan Signature style itu kayak identitas khas yang bikin tokoh utama kita gampang dikenali. Contohnya, siapa sih yang bisa lupa sama Harry Potter dengan kacamata bulat dan bekas luka petir di dahinya? Atau Sherlock Holmes dengan topi deerstalker dan pipanya? Nah, itulah kekuatan signature style! Nah, kalau pada cerita yang aku tulis, berjudul Restart, tokoh utamanya adalah Gamma, berpakaian khas dengan kaos dan kemeja flanel, celana jeans dan selalu ranselan kalau kerja.   2.       Catchphrase: Kalimat yang Membekas Catchphrase itu kalimat yang sering diucapkan sama tokoh dan jadi ciri khas mereka. Dalam cerita, catchphrase bisa banget nunjukin k...