Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2024

John Stuart Mill: Lebih Baik Menjadi Bijak Walau Tidak Bahagia?

  John Stuart Mill, filsuf berpengaruh abad ke-19, pernah melontarkan pernyataan kontroversial: Menjadi orang bijak yang tidak bahagia lebih baik bagiku daripada menjadi orang gila walaupun bahagia . Sekilas, pernyataan ini terdengar masokis. Bukankah kebahagiaan menjadi tujuan hidup? Namun dengan menggali lebih dalam, kita bisa memahami maksud Mill. Mari kita kupas mengapa, dalam sudut pandang pengembangan diri, menjadi bijak walaupun tidak bahagia justru bisa menjadi jalan menuju kebahagiaan yang lebih bertahan lama. Kebahagiaan yang dikejar oleh "orang gila" yang dimaksud Mill bisa jadi adalah kesenangan semata, misal keseruan sesaat, kepuasan instan atau pelarian dari realita pahit. Kebahagiaan ini cenderung dangkal. Bisa saja hari ini kita bisa tertawa terbahak-bahak, besoknya masalah bisa datang menerpa dan menyapu bersih kebahagiaan itu. Sebaliknya, kebijaksanaan yang Mill agungkan adalah hasil dari proses belajar yang panjang, berkontemplasi   dan memahami dunia sec...

Menjadi Penulis Tapi Tidak Suka Membaca? BISA!

  Pada    akun instagram saya, beberapa follower yang mengirimkan pesan langsung menanyakan hal yang sama, “Kak, saya ingin menulis juga, bagi tips dong!” maka selalu saya jawab “Membaca”. Kemudian beberapa dari mereka memberikan jawaban yang mencengangkan, “Tapi saya tidak suka membaca, kak.” Mendapat jawaban begitu, saya diam. Urung menjawab. Biarin aja. Tapi saya berpikir kemudian. Pernahkah kamu mendengar adagium: Penulis adalah pembaca yang baik? Saya tidak mau menghakimi, karena kebetulan tidak ada palu hakim yang saya pegang dan tidak ada meja yang akan diketuki. Bisa jadi dia tidak memiliki waktu yang cukup luang untuk membaca, tapi ingin menulis. Tapi sebentar, tadi dia bilang TIDAK SUKA, bukan TIDAK SEMPAT. Walah walah, ya gimana ya? Apa masih bisa menjadi penulis? Eh, penulis yang baik? Jawaban saya, secara teknis, bisa. Ada banyak cara untuk mengasah keterampilan menulis tanpa membaca. Mungkin. Mungkin, ya? Saya gak bisa kasih jawaban pasti. Nah, ad...

Solusi Satu-Satunya Jalan Jelek: Terbang

       Minggu malam, saya duduk kurang lebih sekitar satu jam pada tangga masuk Gramedia Sudirman Pekanbaru. Setelah selesai dari acara komunitas membaca bekerjasama dengan Gramedia. Saya duduk bukan karena capek atau ingin istirahat, saya duduk karena saya menunggu taksi online yang akhirnya saya dapatkan setelah dua kali dibatalkan oleh pengemudi dengan alasan yang sama: kejauhan. Saya maklum, memang hari terakhir akhir pekan, macet dan yah, sedikit banjir. Untuk rute dari Sudirman ke Panam wajar saja orang mikir-mikir. Wong saya juga mikir-mikir kalau ini bukan acara yang saya sangat minati, tentu saya tidak akan datangi.      Singkat cerita, saya naik mobil berwarna kuning ceria. Sayangnya, keceriaan itu tidak berlangsung lama sebab sesaat setelah pengemudi bertanya daerah Panam tujuan saya di jalan apa dan saya menjawab singkat, kemudian pengemudi itu berdecak kesal, “Waduh! Itu apa gak ada jalan lain, Kak? Amburadul jalannya.” Saya menghela nafas...

Menjelang Ramadhan, Surga Mulai Dijajakan

  “Surganya, Pak…, surganya, Bu…,” Sekiranya begitulah yang saya dengar, walaupun secara harfiah mereka mengucapkan hal lain yang wajar, ‘Sumbangan perbaikan masjid’ atau ‘Sumbangan buka bersama’ yang saya tahu pasti bahwa masjid tidak kenapa-napa, masih oke dan sangat layak untuk beribadah, yang saya tahu buka bersama justru dihadiri oleh warga dengan penampilan mentereng. Sejak pindah sekitar lima tahun lalu, dan kebetulan saat itu juga akan memasuki bulan Ramadhan, sumbangan-sumbangan seperti ini sudah datang. Bukan, saya bukan menyalahkan warga yang keluyuran pagi petang bergantian ke rumah-rumah pilihan, yang entah berdasarkan kategori apa. Kepada mereka saya turut prihatin, kasihan, misuh-misuh. Dengan langkah teguh karena iming-iming surga mereka meyakinkan diri mengetuk pintu rumah. Masalahnya dimana? Kan baik menyumbang demi masjid? Kan baik memberi makan sesama muslim? Benar. Semuanya baik.  Tapi, coba baca cerita ini. Jadi, kemarin sore, rumah saya diketuk oleh dua ...