John Stuart Mill, filsuf berpengaruh abad ke-19, pernah melontarkan pernyataan kontroversial: Menjadi orang bijak yang tidak bahagia lebih baik bagiku daripada menjadi orang gila walaupun bahagia . Sekilas, pernyataan ini terdengar masokis. Bukankah kebahagiaan menjadi tujuan hidup? Namun dengan menggali lebih dalam, kita bisa memahami maksud Mill. Mari kita kupas mengapa, dalam sudut pandang pengembangan diri, menjadi bijak walaupun tidak bahagia justru bisa menjadi jalan menuju kebahagiaan yang lebih bertahan lama. Kebahagiaan yang dikejar oleh "orang gila" yang dimaksud Mill bisa jadi adalah kesenangan semata, misal keseruan sesaat, kepuasan instan atau pelarian dari realita pahit. Kebahagiaan ini cenderung dangkal. Bisa saja hari ini kita bisa tertawa terbahak-bahak, besoknya masalah bisa datang menerpa dan menyapu bersih kebahagiaan itu. Sebaliknya, kebijaksanaan yang Mill agungkan adalah hasil dari proses belajar yang panjang, berkontemplasi dan memahami dunia sec...