Langsung ke konten utama

Kenapa “Tokoh Biasa Yang Tidak Siap, Justru Menghadapi Masalah yang Tidak Dia Buat” Masih Menjadi Jenis Cerita yang Menarik?

 Konsep “Pria/Wanita Biasa dengan Masalah” adalah salah satu arketipe cerita yang tidak lekang oleh waktu. Ini mendeskripsikan kisah seorang tokoh protagonis (biasanya awam dan relatable) yang mendadak menghadapi masalah besar dan harus berusaha mengatasinya.  Popularitas cerita dengan gaya ini bisa dilihat dari banyaknya film dan novel yang menggunakannya, seperti "Parasite," dan "Laskar Pelangi."  Mari kita telaah alasan di balik kegemaran pembaca terhadap cerita jenis ini.



1. Relatable: Kedekatan dengan Tokoh Utama

Kunci utama cerita ini adalah protagonis yang biasa. Dia bukan superhero atau detektif jagoan, melainkan orang  dengan kehidupan sehari-hari yang bisa kita bayangkan. Pembaca dengan mudah bisa memproyeksikan diri mereka ke dalam situasi sang tokoh. Ketika masalah besar menimpa tokoh tersebut, muncul rasa keterlibatan emosional. Kita ikut merasakan kebingungan, ketakutan, dan keinginannya untuk keluar dari masalah.


2. Perjalanan Heroik yang Realistis

Di dalam cerita juga menyuguhkan perjalanan heroik yang lebih realistis. Tokoh utama  bukanlah  jagoan bawaan. Mereka membuat kesalahan, ragu-ragu, dan terkadang jalan di tempat. Namun, di dalam keterpurukan itu, mereka terus berusaha. Mereka beradaptasi, belajar dari kegagalan, dan perlahan-lahan meraih kemajuan.Perjuangan ini terasa  lebih menginspirasi karena mencerminkan kemampuan manusia biasa untuk mengatasi tantangan. Menyaksikan  perjuangan tokoh utama mengatasi permasalahan yang ada memberikan  sensasi  kepuasan  tersendiri. Selain itu, biasanya cerita  ini  penuh dengan kejutan dan plot twist yang  membuat pembaca atau penonton tetap terlibat dan penasaran hingga akhir. 


3. Komedi yang Organik

Keseharian yang diangkat dalam cerita ini membuka ruang untuk komedi yang segar dan organik. Situasi canggung pada kencan pertama, kegagapan saat presentasi, atau kesialan yang tak terduga menjadi bumbu cerita yang menghibur. Humornya lahir dari hal-hal yang bisa kita alami sendiri, sehingga terasa lebih dekat dan menggelitik.


4. Komentar Sosial yang Tersirat

Meski  terlihat  sebagai  hiburan  murni,  cerita jenis ini seringkali menyisipkan  komentar sosial secara tersirat. Masalah yang dihadapi tokoh biasanya   merepresentasikan kesulitan yang dihadapi masyarakat secara luas, seperti  ketimpangan sosial, korupsi, atau  diskriminasi. Dengan cara yang menarik dan  tanpa  terlalu  didaktis, cerita ini merupakan refleksi dan memunculkan diskusi dari kalangan pembaca.


Novel yang sedang saya garap berjudul Restart, memiliki plot dan alur dengan jenis penceritaan seperti ini. Menceritakan sekumpulan remaja usia 20-an awal sedang menata masa depan. Beban demi beban mereka pikul pada pundak masing-masing, bukan hanya soal ujian akhir, tapi masalah keluarga juga andil. Kisah cinta yang tidak biasa serta masa lalu yang penuh drama mewarnai cerita. Memang seperti yang telah disampaikan di atas, jika dilihat dari komentar pada bab Restart, pembaca terlibat secara emosional dengan perjalanan tokoh. Perjuangan manusiawi dan humor ringan yang tidak berlebihan justru membuat cerita ini memiliki daya tarik. 


Baca Restart dan tinggalkan pendapat kamu mengenai cerita ini

Klik ini untuk membaca Restart


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pangku: Kegagalan Negara dan Dekonstruksi Stigma Terhadap Perempuan

PERINGATAN SPOILER:  Tulisan ini berisi opini pribadi yang bisa saja mengungkap detail penting dari film. “Ribuan kilo jalan yang kau tempuh ….” Ya, petikan gitar yang mungkin kamu sudah hapal benar nada dan temponya, dinyanyikan oleh suara yang familiar meskipun itu adalah sebuah rekaman ulang khusus untuk film yang baru saja kamu tonton selama kurang dari dua jam (dua jam jika ditotalkan dengan segala jenis iklan). Layar menunjukkan extreme close-up wajah tokoh perempuan utama, Sartika. Di sana, ia tiba-tiba berbeda dari beberapa menit sebelumnya saat terakhir kamu melihatnya; lebih kusam, garis-garis di bawah dan sisi terluar matanya mulai terlihat, tubuhnya tampak tak lagi tegap, dan rambut sepunggung yang hitam legam itu kini dihiasi beberapa helai yang tampak putih kilap. Kamu (dan penonton lainnya) terdiam untuk beberapa saat. Suara desis-desisan hidung orang-orang yang masih duduk satu ruangan denganmu membuatmu yakin bahwa air yang melapisi bagian terluar matamu merujuk ...

Puluhan Novel, Ratusan Halaman, dan Akhirnya Saya Menemukan 8 Rahasia Menulis yang Tak Pernah Diajarkan!

  Saat pertama kali belajar menulis, saya pikir kuncinya hanya soal teknik: cara membangun plot, menulis dialog yang natural, atau menciptakan karakter yang meyakinkan. Saya membaca banyak buku panduan menulis, mengikuti kelas-kelas menulis, dan mencoba menerapkan semua teori yang diajarkan. Tapi semakin banyak novel yang saya baca—bukan sekadar membaca , tapi benar-benar mencermati bagaimana penulis hebat menyusun kisah mereka—saya mulai menyadari sesuatu. Ada hal-hal yang tidak pernah diajarkan di kelas menulis mana pun. Rahasia yang hanya bisa ditemukan dengan terus membaca dan menulis, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Setelah membaca puluhan novel dari berbagai genre dan gaya, saya merangkum 8 hal yang sering kali tersembunyi dalam karya para penulis hebat. Maka tersenyum rianglah sebab saya membagikannya di sini >.< 1. Ketidaksempurnaan yang Justru Menghidupkan Cerita Dulu, saya mengira tulisan yang bagus harus sempurna . Nyatanya, novel yang paling berkesan bagi sa...

Hindari White Room Syndrome Dalam Ceritamu! Intip Tipsnya!

  White Room Syndrome terjadi ketika penulis menghadirkan adegan atau karakter tanpa memberikan konteks yang memadai. Istilah ini mengacu pada situasi di mana pembaca merasa seolah-olah karakter atau adegan berada dalam ruang putih kosong tanpa latar belakang atau detail yang relevan. Untuk menghindari white room syndrome, penting bagi penulis untuk memperkaya narasi dengan deskripsi, emosi, dan interaksi yang lebih mendalam antara karakter dan lingkungannya. Dengan begitu, pembaca dapat lebih terlibat dan terhubung dengan cerita yang dibangun oleh penulis. Berikut beberapa langkah yang dapat membantumu menghindari white room syndrome dalam kepenulisan: Deskripsikan Lingkungan: Pastikan kamu memberikan deskripsi yang memadai tentang tempat di mana adegan berlangsung. Gambarkan suasana, cahaya, bau, dan suara. Misalnya, George R.R. Martin dalam seri A Song of Ice and Fire sering memberikan detail tentang makanan atau benda yang ada di sekitar karakter saat mereka berbicara. Ini t...