Langsung ke konten utama

Solusi Satu-Satunya Jalan Jelek: Terbang

 


    Minggu malam, saya duduk kurang lebih sekitar satu jam pada tangga masuk Gramedia Sudirman Pekanbaru. Setelah selesai dari acara komunitas membaca bekerjasama dengan Gramedia. Saya duduk bukan karena capek atau ingin istirahat, saya duduk karena saya menunggu taksi online yang akhirnya saya dapatkan setelah dua kali dibatalkan oleh pengemudi dengan alasan yang sama: kejauhan. Saya maklum, memang hari terakhir akhir pekan, macet dan yah, sedikit banjir. Untuk rute dari Sudirman ke Panam wajar saja orang mikir-mikir. Wong saya juga mikir-mikir kalau ini bukan acara yang saya sangat minati, tentu saya tidak akan datangi.
    Singkat cerita, saya naik mobil berwarna kuning ceria. Sayangnya, keceriaan itu tidak berlangsung lama sebab sesaat setelah pengemudi bertanya daerah Panam tujuan saya di jalan apa dan saya menjawab singkat, kemudian pengemudi itu berdecak kesal, “Waduh! Itu apa gak ada jalan lain, Kak? Amburadul jalannya.”

Saya menghela nafas pelan. Ya, mau dijawab apa? Mau dijawab bagaimana? Apa jangan-jangan supirnya pengen saya pindah rumah mendadak hanya karena dia enggan nyupirin ke alamat yang dituju? Kalau saya, sih, pengennya mobil itu bisa terbang sehingga tidak harus melintasi  jalan yang jauh dari kata mulus.

    Lalu saya memberikan alternatif jalan lain. “Yaa, sama aja sih, kak. Hancur juga,” pungkas pengemudi.

Oke fix! Dia benar-benar kepengen saya mendadak pindah rumah!

Sepanjang jalan hanya ada lantunan musik dangdut yang di mix DJ. Memasuki jalan rumah saya, lagu jedag-jedug itu diganti ke lagu santai khas yang diputar di Gramedia, sambil supirnya menyela, “biar rileks, Kak.”

Saya ngikik, tentu saja dalam hati.


    Tiba-tiba saya memikirkan sesuatu, hubungan antara jalan buruk dan tingkat stres. Saya kembali mengingat-ingat diri saya sebagai warga yang bermukim pada akses jalan yang jelek.

Benar, saya sendiri malas keluar kalau tidak penting-penting amat. Jalan yang jelek membuat pengendara harus lihai meliuk-liukkan pinggang (jika berkendara motor) untuk menghindari lubang yang bisa dibuat sebagai kolam anakan ikan dan harus tegapkan pinggang saat tidak bisa menghindarinya, sebab sering kali mengambil sisi jalan sebelah yang berlainan arah. Belum lagi saya memikirkan risiko kecelakaan baik tunggal maupun tabrakan (kecelakaan multi kendaraan). 

    Akhirnya, pagi ini saya merangkum berdasarkan pengalaman sendiri dan beberapa tetangga yang mendadak saya wawancarai tadi pagi. Sungguh sentimentil.


Berikut beberapa pengaruh psikologis warga terhadap akses jalan yang buruk:

1. Stres dan kecemasan: Jalan yang rusak, berlubang, dan bergelombang dapat meningkatkan stres dan kecemasan bagi penggunanya sebab dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor. Selain itu, jalan rusak  juga dapat menyebabkan kerusakan pada kendaraan, seperti ban bocor, velg bengkok, atau kerusakan lain yang mungkin tidak saya pahami. Selain dua hal tadi, jalan yag rusak menyebabkan kemacetan dan membuat pengguna jalan terjebak.. Kekhawatiran akan kecelakaan, kerusakan kendaraan dan kemacetan ini tentu saja meningkatkan kecemasan dan memicu stress bagi pengguna jalan. 

2. Mudah marah: Sulit mencapai tujuan dengan tepat waktu, ketidaknyamanan dalam melewati jalan, menjadi agresif dalam berkendara, hal-hal tersebut membuat seorang pengendara menjadi mudah marah.

3. Penurunan kualitas hidup: Akses jalan yang buruk dapat menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan. Kebisingan dari kendaraan di jalan yang rusak, polusi udara, dan kesulitan mobilitas dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kesejahteraan.

4. Stigma dan diskriminasi: Masyarakat yang tinggal di daerah dengan akses jalan yang buruk sering kali mengalami stigma dan diskriminasi dari anggota masyarakat lain. 


    Poin keempat menjadi pembukaan dalam opini ini. Saya cenderung menyimpulkan bahwa bukan karena alasan ‘jauh’ pengemudi membatalkan pesanan saya, tapi karena akses ‘jalan yang buruk’, sebab mereka menanyakan jalan dulu baru memutuskan untuk pembatalan sebelum mengatakan jauh. Lalu ditambah dengan perkataan pengemudi yang akhirnya mengantar bahwa rekan-rekan sesama pengemudi sedikit malas menerima rute alamat saya. Kok bisa, ya, Panam disebut-sebut sebagai daerah yang paling cepat perkembangannya sementara jalannya saja tidak rata? Hmmm…

Tepat saat saya menyelesaikan opini ini, terlintas dipikiran kemana distribusi pajak kendaraan bermotor yang warga bayarkan setiap tahun? 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pangku: Kegagalan Negara dan Dekonstruksi Stigma Terhadap Perempuan

PERINGATAN SPOILER:  Tulisan ini berisi opini pribadi yang bisa saja mengungkap detail penting dari film. “Ribuan kilo jalan yang kau tempuh ….” Ya, petikan gitar yang mungkin kamu sudah hapal benar nada dan temponya, dinyanyikan oleh suara yang familiar meskipun itu adalah sebuah rekaman ulang khusus untuk film yang baru saja kamu tonton selama kurang dari dua jam (dua jam jika ditotalkan dengan segala jenis iklan). Layar menunjukkan extreme close-up wajah tokoh perempuan utama, Sartika. Di sana, ia tiba-tiba berbeda dari beberapa menit sebelumnya saat terakhir kamu melihatnya; lebih kusam, garis-garis di bawah dan sisi terluar matanya mulai terlihat, tubuhnya tampak tak lagi tegap, dan rambut sepunggung yang hitam legam itu kini dihiasi beberapa helai yang tampak putih kilap. Kamu (dan penonton lainnya) terdiam untuk beberapa saat. Suara desis-desisan hidung orang-orang yang masih duduk satu ruangan denganmu membuatmu yakin bahwa air yang melapisi bagian terluar matamu merujuk ...

Puluhan Novel, Ratusan Halaman, dan Akhirnya Saya Menemukan 8 Rahasia Menulis yang Tak Pernah Diajarkan!

  Saat pertama kali belajar menulis, saya pikir kuncinya hanya soal teknik: cara membangun plot, menulis dialog yang natural, atau menciptakan karakter yang meyakinkan. Saya membaca banyak buku panduan menulis, mengikuti kelas-kelas menulis, dan mencoba menerapkan semua teori yang diajarkan. Tapi semakin banyak novel yang saya baca—bukan sekadar membaca , tapi benar-benar mencermati bagaimana penulis hebat menyusun kisah mereka—saya mulai menyadari sesuatu. Ada hal-hal yang tidak pernah diajarkan di kelas menulis mana pun. Rahasia yang hanya bisa ditemukan dengan terus membaca dan menulis, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Setelah membaca puluhan novel dari berbagai genre dan gaya, saya merangkum 8 hal yang sering kali tersembunyi dalam karya para penulis hebat. Maka tersenyum rianglah sebab saya membagikannya di sini >.< 1. Ketidaksempurnaan yang Justru Menghidupkan Cerita Dulu, saya mengira tulisan yang bagus harus sempurna . Nyatanya, novel yang paling berkesan bagi sa...

Hindari White Room Syndrome Dalam Ceritamu! Intip Tipsnya!

  White Room Syndrome terjadi ketika penulis menghadirkan adegan atau karakter tanpa memberikan konteks yang memadai. Istilah ini mengacu pada situasi di mana pembaca merasa seolah-olah karakter atau adegan berada dalam ruang putih kosong tanpa latar belakang atau detail yang relevan. Untuk menghindari white room syndrome, penting bagi penulis untuk memperkaya narasi dengan deskripsi, emosi, dan interaksi yang lebih mendalam antara karakter dan lingkungannya. Dengan begitu, pembaca dapat lebih terlibat dan terhubung dengan cerita yang dibangun oleh penulis. Berikut beberapa langkah yang dapat membantumu menghindari white room syndrome dalam kepenulisan: Deskripsikan Lingkungan: Pastikan kamu memberikan deskripsi yang memadai tentang tempat di mana adegan berlangsung. Gambarkan suasana, cahaya, bau, dan suara. Misalnya, George R.R. Martin dalam seri A Song of Ice and Fire sering memberikan detail tentang makanan atau benda yang ada di sekitar karakter saat mereka berbicara. Ini t...