Saya menghela nafas pelan. Ya, mau dijawab apa? Mau dijawab bagaimana? Apa jangan-jangan supirnya pengen saya pindah rumah mendadak hanya karena dia enggan nyupirin ke alamat yang dituju? Kalau saya, sih, pengennya mobil itu bisa terbang sehingga tidak harus melintasi jalan yang jauh dari kata mulus.
Lalu saya memberikan alternatif jalan lain. “Yaa, sama aja sih, kak. Hancur juga,” pungkas pengemudi.
Oke fix! Dia benar-benar kepengen saya mendadak pindah rumah!
Sepanjang jalan hanya ada lantunan musik dangdut yang di mix DJ. Memasuki jalan rumah saya, lagu jedag-jedug itu diganti ke lagu santai khas yang diputar di Gramedia, sambil supirnya menyela, “biar rileks, Kak.”
Saya ngikik, tentu saja dalam hati.
Tiba-tiba saya memikirkan sesuatu, hubungan antara jalan buruk dan tingkat stres. Saya kembali mengingat-ingat diri saya sebagai warga yang bermukim pada akses jalan yang jelek.
Benar, saya sendiri malas keluar kalau tidak penting-penting amat. Jalan yang jelek membuat pengendara harus lihai meliuk-liukkan pinggang (jika berkendara motor) untuk menghindari lubang yang bisa dibuat sebagai kolam anakan ikan dan harus tegapkan pinggang saat tidak bisa menghindarinya, sebab sering kali mengambil sisi jalan sebelah yang berlainan arah. Belum lagi saya memikirkan risiko kecelakaan baik tunggal maupun tabrakan (kecelakaan multi kendaraan).
Akhirnya, pagi ini saya merangkum berdasarkan pengalaman sendiri dan beberapa tetangga yang mendadak saya wawancarai tadi pagi. Sungguh sentimentil.
Berikut beberapa pengaruh psikologis warga terhadap akses jalan yang buruk:
1. Stres dan kecemasan: Jalan yang rusak, berlubang, dan bergelombang dapat meningkatkan stres dan kecemasan bagi penggunanya sebab dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor. Selain itu, jalan rusak juga dapat menyebabkan kerusakan pada kendaraan, seperti ban bocor, velg bengkok, atau kerusakan lain yang mungkin tidak saya pahami. Selain dua hal tadi, jalan yag rusak menyebabkan kemacetan dan membuat pengguna jalan terjebak.. Kekhawatiran akan kecelakaan, kerusakan kendaraan dan kemacetan ini tentu saja meningkatkan kecemasan dan memicu stress bagi pengguna jalan.
2. Mudah marah: Sulit mencapai tujuan dengan tepat waktu, ketidaknyamanan dalam melewati jalan, menjadi agresif dalam berkendara, hal-hal tersebut membuat seorang pengendara menjadi mudah marah.
3. Penurunan kualitas hidup: Akses jalan yang buruk dapat menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan. Kebisingan dari kendaraan di jalan yang rusak, polusi udara, dan kesulitan mobilitas dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kesejahteraan.
4. Stigma dan diskriminasi: Masyarakat yang tinggal di daerah dengan akses jalan yang buruk sering kali mengalami stigma dan diskriminasi dari anggota masyarakat lain.
Poin keempat menjadi pembukaan dalam opini ini. Saya cenderung menyimpulkan bahwa bukan karena alasan ‘jauh’ pengemudi membatalkan pesanan saya, tapi karena akses ‘jalan yang buruk’, sebab mereka menanyakan jalan dulu baru memutuskan untuk pembatalan sebelum mengatakan jauh. Lalu ditambah dengan perkataan pengemudi yang akhirnya mengantar bahwa rekan-rekan sesama pengemudi sedikit malas menerima rute alamat saya. Kok bisa, ya, Panam disebut-sebut sebagai daerah yang paling cepat perkembangannya sementara jalannya saja tidak rata? Hmmm…
Tepat saat saya menyelesaikan opini ini, terlintas dipikiran kemana distribusi pajak kendaraan bermotor yang warga bayarkan setiap tahun?

Komentar
Posting Komentar