“Surganya, Pak…, surganya, Bu…,”
Sekiranya begitulah yang saya dengar, walaupun secara harfiah mereka mengucapkan hal lain yang wajar, ‘Sumbangan perbaikan masjid’ atau ‘Sumbangan buka bersama’ yang saya tahu pasti bahwa masjid tidak kenapa-napa, masih oke dan sangat layak untuk beribadah, yang saya tahu buka bersama justru dihadiri oleh warga dengan penampilan mentereng.
Sejak pindah sekitar lima tahun lalu, dan kebetulan saat itu juga akan memasuki bulan Ramadhan, sumbangan-sumbangan seperti ini sudah datang. Bukan, saya bukan menyalahkan warga yang keluyuran pagi petang bergantian ke rumah-rumah pilihan, yang entah berdasarkan kategori apa. Kepada mereka saya turut prihatin, kasihan, misuh-misuh. Dengan langkah teguh karena iming-iming surga mereka meyakinkan diri mengetuk pintu rumah. Masalahnya dimana? Kan baik menyumbang demi masjid? Kan baik memberi makan sesama muslim? Benar. Semuanya baik.
Tapi, coba baca cerita ini.
Jadi, kemarin sore, rumah saya diketuk oleh dua orang bapak-bapak kompleks, dua-duanya mengenakan kopiah, satu berwarna dongker dan satu lagi berwarna hitam, rapi, wangi, senyum merekah. Secara keseluruhan baik. Membawa satu tumpukan kertas yang dijilid biru muda. Bertuliskan nama warga pilihan. Diberi kolom dengan nomor, alamat rumah, nama, jumlah sumbangan. Pada bagian jumlah sumbangan sudah dituliskan nominalnya, catatan: setiap tahun begitu, yang saya tahu lima tahun terakhir, ratusan ribu. “Lebih boleh, kurang jangan,” begitu ucap salah satu bapak yang sudah sejak lima tahun lalu dia katakan. Sudah jadi template sepertinya.
Saya tersenyum, sambil mengatakan bahwa nanti kembali lagi, suami saya belum pulang.
Lalu mereka mengangguk dan kemudian mengatakan, “yang ini untuk buka bersama ya, Mbak,” menunjuk nominal yang sudah ditulis. “Kalau buat masjid, beda lagi. Masukkan saja dalam amplop nanti. Banyak-banyak, ya, Mbak. Biar masuk surga.”
Saya tersenyum, dalam hati saya ngakak.
“Surga bisa dibeli, ya, Pak?” tanya saya iseng.
Raut salah satu dari mereka berubah menunjukkan seolah sedang berbicara dengan kafir.
“Enggak, Mbak. Maksud saya, makin banyak, kan, makin bagus, terbuka lebar pintu surga buat mbaknya…”
“Wah, seneng banget saya dijamin masuk surga!” jawab saya ceria.
Kini tidak hanya raut, terlihat jelas mulutnya bergerak-gerak seolah akan mengkafir-kafirkan saya. Mungkin kalau saja temannya tidak mengajak kembali, kata-kata itu keluar. Kalaupun keluar, saya sudah putuskan akan diam. Itu hak dia berpikiran saya seperti apa, bahkan kafir sekalipun.
Setelah mereka pulang, saya makan. Sambil makan saya merenung.
Merenungkan jalur surga yang dua tadi, sumbangan masjid dan sumbangan berbuka puasa. Maksudnya baik memang, malah salah satunya merupakan sedekah utama: Memberi makan orang lain. Ya, orang lain yang lebih baik tepat sasaran seharusnya. Masjid bagus, tinggi megah, besar, dingin, sejuk. Sementara di lingkungan masjid itu saya tahu ada tetangga yang suaminya baru saja di PHK, ada yang single mother mati-matian bekerja mencuci di rumah warga demi perutnya dan anak-anaknya, ada yang saat malam tidur di emperan minimarket karena bekerja sebagai tukang parkir dan ada yang tiap pagi sudah berangkat menjajakan tisu ke persimpangan lampu lalu lintas. Mereka kategori yang lebih pantas mendapatkan bantuan dari sekadar mengganti mimbar. Apa gunanya masjid megah kalau tidak bisa memberikan rasa aman? Masjid kan tempat ibadah, kok rasa aman, sih? Nah, ini. Masjid tempat berkumpulnya muslim. Saling membagi ilmu, bertukar pikiran dan saling membantu. Rasa aman muncul dari rasa persaudaraan dan saling mendukung. Bagaimana bisa mereka yang untuk isi perut saja harus berkejar-kejaran waktu hingga tidak sempat ke masjid? Atau, mungkin sempat. Tapi saat acara buka bersama, kita malah sibuk berlomba siapa yang paling necis, sehingga mereka yang datang memang untuk makan dengan pakaian yang biasa-biasa saja akan merasa tersudutkan, hingga berpikir ulang besoknya akan datang atau tidak.
Masjid megah tidak salah, bagus malah. Nyaman beribadah, berdoa, menemui Allah. Namun kenyataannya Allah tidak hanya ada di masjid, setahu saya yang ilmu agamanya tak seberapa. Allah justru dekat dengan orang-orang kelaparan, sakit dan miskin. Jumpai Allah pada mereka. Datangi mereka, beri makan dan jenguk saat tetangga sedang sakit. Silahkan saja tingkatkan kesalehan individual, namun jangan tumpul kepekaan terhadap sekitar. Sebab jalur surga tak hanya dua tadi saja.

Komentar
Posting Komentar