Menulis cerita dengan sudut pandang orang ketiga ini menurut saya susah-susah-gampang. Dua kali susahnya, sekali gampangnya 😏. Jelas, penulis sebagai dalang, tapi dalang yang bagaimana?
Apa dalang yang serba tahu, atau serba hadir, atau bisa saja hanya berada pada perspektif tertentu.
Wah, menentukan ini saja sudah membuat penulis berpikir dan kemudian mengira-ngira apakah ceritanya berjalan dengan baik jika memilih satu dari sekian banyak pilihan dalang. 
Pembagian Sudut Pandang Orang Ketiga
1. Orang Ketiga Serba Tahu (Omniscient)2. Orang Ketiga Terbatas (Limited)
Sudut pandang ini lebih terkendali. Kita hanya mengikuti satu tokoh, mengetahui apa yang dia pikirkan, rasakan, atau lihat. Dengan cara ini, cerita terasa lebih personal meski tetap berada pada sudut pandang orang ketiga. Tantangannya adalah bagaimana tetap menjaga kedalaman tanpa kehilangan fleksibilitas narasi.
3. Orang Ketiga Objektif
Di sini, kita menjadi seperti kamera pengintai. Kita hanya merekam apa yang terlihat, tanpa masuk ke pikiran atau perasaan tokoh. Teknik ini menantang, karena kita harus mengandalkan tindakan dan dialog untuk mengungkapkan emosi. Sepertinya teknik show don't tell akan banyak digunakan pada jenis narasi seperti ini.
Ketika menulis novel dengan POV 3, saya sering merasa bahwa saya harus tahu segalanya, tapi tidak semua hal harus ditampilkan ke pembaca. Saya ingat pertama kali mencoba POV 3 serba tahu, saya terlalu ambisius—berusaha memasukkan semua detail kecil ke dalam cerita. Akibatnya? bab itu membosankan, panjang dan bertele-tele. Lalu, saya belajar menyaring informasi. Saya fokus pada apa yang penting untuk cerita, dan sisanya saya simpan sebagai backstage notes. Salah satu trik saya adalah bertanya pada diri sendiri: "Apakah ini membantu pembaca memahami cerita atau karakter?" .
POV 3 juga mengajarkan saya disiplin dalam membangun emosi. Di novel RESTART, ada satu bab yang penuh oleh segala bentuk emosi dari setiap tokohnya. Daripada langsung menyatakan, "Dia merasa hancur", saya memilih menuliskannya melalui narasi:
Entah untuk keberapa kali, kata-kata Andre menghantamnya—seperti angin yang datang tak henti, dengan arah dan kekuatan berbeda pula. Namun, Gamma kini hanya diam, tenggelam dalam kepasrahan. Mungkin ada titik di mana manusia berhenti terkejut bukan karena tak ada yang mampu mengejutkannya lagi, melainkan karena dirinya mulai kebal, atau mungkin, terlalu lelah untuk bereaksi. (Narasi RESTART Bab 38 - Hampa)
Membiarkan pembaca melihat emosi tanpa langsung menunjukkannya adalah salah satu cara agar pembaca ikut merasa terikat secara emosional dengan tokoh cerita.
Tips Menulis Dengan Sudut Pandang Orang Ketiga
Tetap Fokus
Meskipun serba tahu, jangan lupa untuk tetap menjaga fokus cerita. Pembaca suka mengikuti satu atau dua tokoh utama secara konsisten.Gunakan Transisi yang Halus
Jika harus berpindah perspektif, gunakan pemisahan bab atau jeda yang jelas untuk menghindari kebingungan.Show, Don’t Tell
Deskripsikan emosi dan tindakan secara konkret daripada hanya menyebutkan apa yang dirasakan tokoh.Kenali Batasannya
Jangan gunakan sudut pandang orang ketiga sebagai alasan untuk menyampaikan eksposisi berlebihan. Pilah mana yang perlu diketahui pembaca, mana yang tidak dan mana yang butuh pembaca menyimpulkannya sendiri.
Menulis dengan POV 3 adalah seni menyeimbangkan kebebasan dan kendali. Di satu sisi, penulis diberi keleluasaan untuk mengeksplorasi cerita; di sisi lain, kita harus tetap bijak dalam memilih apa yang perlu ditampilkan. Memang perlu banyak latihan, membaca dan mengoreksi tulisan sendiri, terlebih harus banyak sabar sebab menulis bukan perkara instan 😊Jadi, siapkah kamu mencoba menjadi "dalang" di dunia ceritamu sendiri?
Notes: BACA RESTART
Komentar
Posting Komentar